For Your Information : 02/01/2012 - 03/01/2012

Iklan

Friday, February 10, 2012

Ketenangan Yang Turun Dalam Membaca Al Qur'an

Senin, 19 September 2011

قَرَأَ رَجُلٌ الْكَهْفَ وَفِي الدَّارِ الدَّابَّةُ فَجَعَلَتْ تَنْفِرُ فَسَلَّمَ فَإِذَا ضَبَابَةٌ أَوْ سَحَابَةٌ غَشِيَتْهُ فَذَكَرَهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : اقْرَأْ فُلَانُ فَإِنَّهَا السَّكِينَةُ نَزَلَتْ لِلْقُرْآنِ أَوْ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ  (صحيح البخابي) 


Seorang lelaki membaca salah satu surat Alqur’an yaitu Al Kahfi, maka tiba tiba keledainya beringas dan lari, dipagi harinya beliau tanyakan pada Rasulullah SAW, Rasul SAW bersabda: bacalah terus dan bacalah (jangan takut), karena itu adalah ketenangan yang turun bersama Alqur’an atau turun untuk Alqur’an (maka beruntunglah yang membacanya (Shahih Bukhari)



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا  لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Lebih dari 100 ayat yang terkandung dalam kalimat-kalimat ini, dan salah satunya adalah firman Allah subhanahu wata’ala :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ، وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا   

( الأحزاب : 45-46 )


" Wahai Nabi Saw, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”. ( Al Ahzab : 45-46 )


Lebih dari 100 ayat yang menampung makna kalimat-kalimat dari pembukaan maulid Dhiyaaul Laami’ yang ditulis oleh Al Arif billah Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim Al Hafidh mata’anallahu bih.
Malam Selasa yang lalu saya berjumpa dengan beliau, dan yang pertama kali ditanyakan bukanlah keadaan saya, tetapi beliau bertanya bagaimana kabar jamaah , lalu saya menjawab bahwa jamaah rindu kepada beliau, maka beliau tertawa , dan insyaallah di awal bulan Desember beliau akan datang dan kita akan mengadakan dzikir akbar bersama beliau, somoga acara ini sukses .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembawa rahmat ilahi, yang dengannya terbukalah seluruh rahasia kebahagiaan dunia dan akhirat, dan dengan mencintainya maka hamba akan dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala. Tiada orang yang lebih dicintai Allah di penjuru barat dan timur selain para pecinta nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan mereka dalam rahasia kecintaan Allah subhanahu wata'ala, semoga kita termasuk diantara mereka. Dan majelis ini mengarahkan kita untuk mengidolakan samudera cinta, sayyidina Muhammad shallallahhu 'alaihi wasallam. Dan ketahuilah bahwa cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah bentuk cinta kepada Allah subhanahu wata'ala, dan barangsiapa yang taat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka ia taat kepada Allah subhanahu wata'ala . Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang sahabat dipanggil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun dia tidak menjawab panggilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena dalam keadaan shalat, hingga panggilan yang ketiga kali beliau berkata : “wahai Fulan aku telah memanggilmu namun kau tidak memenuhi panggilanku, tidakkah engkau dengar firman Allah subhanahu wata’ala” :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
(الأنفال : 24 )

" Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu , ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.” ( QS. Al Anfal : 24 ) 

Dari ayat dan kejadian tersebut, seluruh madzhab mengatakan bahwa jika dipanggil oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan shalat dan memenuhi panggilan beliau maka shalatnya tidak batal, karena dalil diatas memerintahkan untuk taat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bukan berarti memuliakan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam lebih dari Allah, justru karena hal itu adalah perintah Allah oleh sebab itu harus diperbuat. Dan dalam madzhab Syafi'i shalat tidak sah jika tanpa salam kepada nabi Muhammad shallallahu 'aalihi wasallam, yaitu dengan mengucapkan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“ Salam sejahtera atasmu wahai nabi serta rahmat dan keberkahan Allah”

Dan salam itu diucapkan dengan kata ganti kedua, seakan orang yang diberi salam ada dihadapan kita (salam sejahtera untukmu wahai nabi), kita ketahui bahwa berbicara dalam shalat maka hal itu membatalkan shalat kecuali bersalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hal itu justru diwajibkan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Akhlaq terindah ada dalam pribadi sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, wajah yang paling indah adalah wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga suatu waktu ketika onta merah yang sedang beringas karena marah dan dikurung dalam sebuah kandang, namun ketika melihat wajah yang paling indah, wajah sayyidina Muhammad shallallahub 'alaihi wasallam maka onta itu berlari menunduk menuju kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kemudian mencium kaki beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Di suatu waktu ketika Idul Adha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membeli 100 ekor onta dan 63 ekor onta Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menyembelihnya, dan sisanya sayyidina Ali bin Abi Thalib RA yang akan menyembelihnya. Hewan sembelihan ketika akan disembelih maka harus dijauhkan dari hewan yang lain karena jika ia melihat darah hewan yang disembelih maka ia akan marah dan mengamuk. Maka onta yang akan disembelih oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepalanya ditutup menggunakan kain, namun Rasulullah meminta untuk membuka kain yang menutupi kepala onta tersebut, dan Rasulullah telah siap dengan pisaunya untuk menyembelih onta tersebut, seketika itu onta-onta berebutan ingin segera disembelih oleh tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, onta tersebut bukan justru lari atau menghindar namun onta-onta tersebut rela jika lehernya dipotong oleh tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al Imam Muhdhar As Saggaf ‘alaihi rahmatullah di dalam salah satu syairnya yang bermakna : 

“Jika engkau putuskan urat nadiku wahai guruku, dengan pisau yang telah ditajamkan, maka demi cintaku padamu sungguh aku ridha”. 

Begitu pula cinta nabi Ibrahim AS kepada Allah sehingga rela menyembelih putranya Ismail As. Diriwayatkan dalam Shahihul Bukhari dimana salah seorang sahabat (khubaib ra) ditangkap oleh kuffar quraisy karena telah membunuh kafir quraisy kemudian dimasukkan ke dalam penjara untuk dijual, dan keluarga yang telah ia bunuh pun siap untuk membelinya, kemudian ia dibawa ke Makkah oleh kuffar quraisy dan di penjara ia melihat anak kecil di luar sel lalu ia meminjam silet kepada anak kecil itu mencukur karena besok ia akan dihukum gantung, ia ingin wajahnya rapih karena akan menghadap Allah subhanahu wata'ala. Maka anak kecil itu pun membawa silet cukur dan memberikan kepadanya, anak itu adalah anak orang yang besok akan membunuhnya, lalu ia mengambil pisau cukur itu dan anak kecil itu duduk di pangkuannya, tidak lama kemudian ibu anak tersebut lewat, ia terkaget dan berteriak : "sungguh celaka anakku berada dipangkuan orang itu”, ia pun memanggil suaminya, ayah ibu itu bingung dan ketakutan dan berkata : “baiklah katakanlah apa yang engkau inginkan, asal jangan kau lukai anak kami”, maka ia berkata : "apakah kalian mengira aku akan melukai anak kalian dengan pisau cukur ini?, aku membawa pisau cukur ini untuk merapikan wajahku agar ketika menghadap Allah wajahku dalam keadaan bersih dan rapih, maka biarkan anak ini duduk di pangkuanku, anak kalian aman bersamaku". Hal yang seperti ini adalah keberanian yang luar biasa, bukanlah sifat pengecut karena sebaliknya jika dia adalah orang yang pengecut maka ia akan melukai atau membunuh anak itu, namun kekuatan keberanian dan kejujuran membuat sahabat itu sangat mulia, dan hal ini adalah berkat tarbiyah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Maka setelah selesai mencukur pisau itu dikembalikan kepada anak tersebut, keesokan harinya dia dihukum gantung dan wafatlah sebagai Syahid.

Diriwayatkan juga dimana seseorang yang sangat shalih dan berbakti kepada ibunya, ia sedang melakukan ibadah di tempat khalwatnya, dan ketika itu ibunya memanggilnya: "Juraij", dalam keadaan shalat Juraij bingung antara memenuhi panggilan ibunya atau melanjutkan shalatnya, namun dia memilih untuk melanjutkan shalatnya. Maka sang ibu marah dan melaknat anak tersebut dan berkata : "aku melaknat engkau untuk tidak meninggal sampai engkau melihat wajah pelacur".Setelah selesai melakukan shalat Juraij keluar menemui ibunya dan meminta maaf namun sang ibu marah dan tidak memaafkannya. Beberapa waktu kemudian masuklah seorang pelacur ke tempat ibadah Juraij dimana pelacur itu dalam keadaan akan melahirkan dan akhirnya ia pun melahirkan di tempat tersebut, maka orang kampung datang dan bertanya bayi siapa yang telah dilahirkan oleh wanita itu, maka wanita itu menjawab : "bayi ini adalah anak Juraij, aku telah berzina dengannya",maka Juraij pun langsung ditangkap dan tempat ibadahnya dibakar, dalam keadaan seperti itu Juraij tidak mampu berbuat apa-apa dan berkata : "Ya Allah, aku membelamu lebih dari semua makhluk, namun saat ini sumpah ibuku telah terbukti, namun buktikanlah wahai Allah bahwa orang yang memilih-Mu lebih dari segala-galanya tidak akan Engkau biarkan terdhalimi”, maka Juraij berkata kepada bayi yang baru lahir tersebut : "wahai bayi siapakah ayahmu?", maka bayi itu berkata : "ayahku seorang petani, bukan engkau wahai Juraij", bayi itu berbicara dengan kehendak Allah, Allah ingin menunjukkan bahwa orang yang memilih Allah dan membela-Nya tidak akan dibiarkan oleh Allah untuk di dhalimi .

Dalam hadits yang kita baca tadi, dan terdapat banyak riwayat akan hadits tersebut. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh sababat untuk bertanya, dimana suatu malam ia membaca Al qur'an, dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia membaca surat Al Kahfi, kemudian ia melihat awan gelap seperti kabut yang turun , maka keledainya lari, kemudian ia mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada nya : "teruslah lanjutkan bacaanmu jangan engkau hentikan , karena awan itu adalah malaikat yang turun karena cahaya Al qur'an yang engaku baca”. Maka hadits ini merupakan penyemangat kepada kita untuk senantiasa membaca Al qur'an khususnya di malam hari, meskipun membacanya tanpa mengetahui artinya. Dan membaca Al qur’an jika yang membacanya dalam keadaan gundah maka bacaan itu akan menjadikannya lebih tenang, dan terlebih lagi jika membacanya dengan mengetahui makna ayat-ayat yang dibaca maka ia tidak akan pernah merasa bosan untuk membacanya. Oleh karena itu, sayyidina Utsman bin Affan RA menghatamkan Al qur'an setiap malam. Dan masih banyak para ulama’ dan shalihin yang melakukan hal tersebut, sebagaimana Al Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail (Keindahan malam) dimana beliau tidak mau membaca Al qur'an di siang hari ketika bulan Ramadhan, karena ketika membaca Al qur'an dia merasakan manisnya madu di mulutnya, maka jika ia membaca Al qur’an di siang hari ketika bulan Ramadhan ia akan merasakan manisnya madu di mulutnya, oleh karena itu ia tidak membaca Al qur’an di siang hari ketika bulan Ramadhan. Beliau jika melakukan qiyamul lail dan ketika dalam keadaan berdiri maka tidak bisa dibedakan antara badan beliau dan tiang masjid karena beliau tegak berdiri tanpa bergerak. Dan banyak para salafusshalih yang berjuang untuk mencapai keridhaan Allah subhanahu wata’ala, dan diantaranya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim, dimana ada seseorang yang sangat tua renta dan setiap malamnya tidak pernah terlewati dari membaca Al Qur’an di masjidnya, dan hal ini terjadi pada masa Al Habib Alwi jSyahabuddin. Dan suatu malam turun hujan yang sangat deras sehingga membuat jalanan berantakan dan penuh lumpur, maka orang-orang yang biasa membaca Al qur’an bersamanya menyangka orang tua itu tidak akan datang karena melihat keadaan yang tidak memungkinkan untuk dia datang ke Masjid sehingga mereka memutuskan untuk memulai membaca Al qur’an, dan ketika mereka akan memulai bacaan terlihat dari kejauhan sebuah lentera kecil yang ternyata dia adalah orang tua tersebut yang tertatih-tatih berjalan yang akhirnya pun tiba di Masjid .

Saudara saudariku yang kumuliakan

Juga berhati-hati dalam menjaga amanah, diriwayatkan dalam sebuah riwayat yang tsiqah dimana ada seseorang yang selama 20 tahun puasa Ramadhannya tidak diketahui oleh orang lain dan syaithan tidak menyukai akan hal ini, suatu saat ketika ia pergi ke pasar untuk membeli kurma maka syaithan merubah wujud menjadi manusia, dan di saat dia membeli kurma maka si syaithan berdesakkan untuk mendahuluinya dan bertkata : “saya berpuasa sunnah selama 3 hari sebaiknya kamu jangan mendahului aku”, maka orang tersebut berbisik dalam hatinya : “aku berpuasa selama 20 tahun tidak merasa sombong sepertimu”, kemudian orang itu membeli ikan dan kembali syaithan itu berdesakkan dan hendak mendahuluinya lalu berkata : “saya berpuasa sunnah selama 3 hari maka jangan engkau mendahului aku”, orang itu kembali berbisik dalam hatinya : “ aku berpuasa selama 20 tahun tidak sombong sepertimu”, dan yang ketiga kalinya orang tersebut kembali membeli kurma, dan syaithan pun berdesakkan dan minta dilayani terlebih dahulu seraya berkata : “ jangan pedulikan orang ini, segera layani aku karena aku telah puasa sunnah selama 3 hari”,maka orang itu berkata : “dan aku selama 20 tahun berpuasa tidak sombong sepertimu”, maka syaitan berkata dengan gembira : “aku adalah syaithan, dan aku ingin amalan kamu diketahui oleh orang lain agar engkau merasa sombong, sehingga habislah amal puasamu selama 20 tahun”. Maka berhati-hatilah terhadap godaan syaithan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Banyak orang yang berputus asa dengan masalah rizki, masalah jodoh, masalah tahta, ketakutan dan lain sebagainya, yang mana kesemua ini ada dalam diri nabi Musa AS, beliau dibesarkan di dalam istana agung Fir’aun, kemudian ia lari ke tempat dimana dia tidak mempunyai makanan dan minuman, tidak mempunyai pekerjaan, tidak pula mempunyai istri dan keluarga dan dalam keadaan ketakutan, dalam perjalanan dia mendapati sebuah sumur dimana ketika itu ada 2 orang perempuan yang ingin mengambil air di sumur lantas dia membantu mereka, setelah itu nabi Musa As beristirahat dan berdoa, karena doa dapat merubah keadaan, di zaman sekarang banyak orang yang meremehkan doa dan hanya berpegang dengan usaha tanpa doa, justru usaha dengan disertai doa jauh lebih baik daripada usaha yang tidak disertai dengan doa, karena usaha tanpa disertai doa akan berakhir dengan neraka, maka ketika itu nabi Musa As berdoa :

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
( القصص : 24 )


"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". ( QS: Al Qashash : 24 )


Setelah itu datanglah kepadanya salah seorang wanita yang telah ia bantu mengambil air di sumur, dan berkata bahwa ayahnya memanggilnya untuk memberi upah atas sesuatu yang telah dia lakukan, tetapi nabi Musa menolak untuk menerima upah tersebut, dan ternyata nabi Musa AS dinikahkan dengan salah satu wanita tersebut. Dan doa tersebut telah diajarkan oleh guru kita Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh, jika sulit dalam rizki atau jodoh maka perbanyaklah doa tersebut, maka insyaallah usaha dipermudah, jodoh dipermudah dan segala urusan dipermudah, amin. 



 :


Tuesday, 27 September 2011
ditulis oleh:

Al habib Munzir Bin Fuad Almusawa





Thursday, February 9, 2012

Sejarah Singkat Imam Bukhari

Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari


Imam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.
 
Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya "Islam in the Sivyet Union" (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.

Keluarga dan Guru Imam Bukhari


Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti "al-Mubarak" dan "al-Waki". Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.
 
Kejeniusan Imam Bukhari

Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.

Karya-karya Imam Bukhari

Karyanya yang pertama berjudul "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab "At-Tarikh" (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, "Saya menulis buku "At-Tarikh" di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama".

Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami' ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al 'Ilal, Raf'ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du'afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami' as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Rasulullah saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' As-Sahih."

Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.

Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al Jami' ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun."

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim  menceritakan : "Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya."

Penelitian Hadits


Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami' as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, "perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu" sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan "Haditsnya diingkari". Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata "Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan".

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau "Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits."

Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

Metode Imam Bukhari dalam Menulis Kitab Hadits

Sebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.

Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan bisa juga berbeda pendapat dengan mereka.

Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami' as-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., seolah-olah Nabi Muhammad saw. berdiri dihadapannya. Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong beliau untuk menulis kitab "Al-Jami 'as-Shahih".

Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. "Saya susun kitab Al-Jami' as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih". Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.

Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.

Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits lainnya. "Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih", katanya suatu saat.

Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami' as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu'allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

 
Terjadinya Fitnah

Muhammad bin Yahya Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: "Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya." Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang berpendapat bahwa "Al-Qur'an adalah makhluk".

Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli : "Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid'ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia." Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.

Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur'an, makhluk ataukah bukan?" Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.

Tetapi orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab: "Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid'ah." Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : "Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah." Di lain kesempatan, ia berkata: "Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta."

Wafatnya Imam Bukhari

Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.
 
Sumber:    - http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari
                - http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits
                - http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=173
                - http://www.almuhajir.net/article.php?fn=seribukhari1
                - http://www.indomedia.com/bpost/012000/28/opini/opini3.htm