For Your Information : 06/01/2011 - 07/01/2011

Iklan

Monday, June 27, 2011

The Indonesia Banking Architecture


:: Indonesian Banking Architecture

The Indonesian Banking Architecture (API) is a comprehensive basic framework for the Indonesian banking system, outlining the direction, outline, and structure of the banking industry for the next five to ten years.  The policy direction for the future development of the banking industry set out in the API is based on the vision of building a sound, strong, and efficient banking industry in order to create financial system stability for promotion of national economic growth.

The API is urgently needed for the strengthening of the fundamentals of the banking industry.  The economic crisis of 1997 exposed the institutional weaknesses in the banking industry and lack of adequate supporting infrastructure. In so doing, it also demonstrated the need for reinforcing the fundamentals of the system in order to build resilience against internal and external shocks.  The weaknesses in the fundamentals of the national banking system not only pose challenges for the banking industry as a whole, but also for Bank Indonesia as the authority responsible for bank supervision.

Because of the absence of a formal policy direction communicated to the public on the future direction and strategy for the banking industry, it was unclear as to what direction the banking industry would take in the long term.  Before the launching of the API, many questions had arisen over the future structure of the Indonesian banking industry, the long-term development strategy for sharia banking, promotion of lending to small, medium, and micro enterprises (SMMEs), and the institutional strengthening of rural banks. In addition, the inadequate supporting infrastructure for the banking system and lack of consumer protection also emerged as issues of importance to stakeholders in the banking industry.

The need for a long-term direction and development strategy for the banking industry has become a global trend and this process is well advanced in other countries such as Malaysia, Thailand, Singapore, and Hongkong.  This clearly demonstrates that a banking system blue print is an essential requirement, one that must urgently be put together to meet the needs of the national banking industry.

In response to the need for the blue print and to consolidate the gains achieved since 1998 under the bank restructuring program, Bank Indonesia launched the API on January 9, 2004, as a comprehensive policy framework for the future development of the Indonesian banking industry.  The launching of the API was also integrally linked to the publication of the Government white paper under Presidential Instruction No. 5 of 2003, in which the API is one of the key programs for promoting national economic recovery.

Driven by the overriding desire for the banking system to have stronger fundamentals, Bank Indonesia sees the need for various revisions to the programs set out in the API.  These improvements also take into account the feedback from implementation of the API during the past two years and are closely related to the various changes that have taken place in the national and international economy.  The improvements include more specific strategies for development of sharia banks, rural banks, and SMMEs.  The API Programs are thus expected to acquire a more comprehensive scope covering the full extent of the banking system as it pertains to commercial banks and rural banks, both conventional and sharia-based, and the development of SMMEs.

Monday, June 20, 2011

"Kalau Hidup Hanya Sekali"

Kalau hidup hanya sekali..
Aku akan menjadi penulis..
Agar karyaku dapat memberitahu dunia..
Bahwa aku pernah hidup..

Kalau hidup hanya sekali..
Aku akan duduk di kursi penonton..
Menonton drama cinta, kecemburuan, penghkianatan, kesedihan dan putus asa..
Yang dimainkan oleh muda-mudi di dunia ini..

Kalau hidup hanya sekali..
Aku akan membagi waktuku dengan alam..
Menatap langit luas dan laut biru..
Menghirup udara segar dan menyelami dasar laut..
Berharap tak kembali lagi..

Kalau hidup hanya sekali..
Aku akan mengembang dan mengepakkan sayapku..
Menjelajahi dunia dan berpetualang melintas alam..
Bagai elang yang melayang di angkasa raya..

Kalau hidup hanya sekali..
Aku lebih memilih persahabatan sesama jenis..
Dibandingkan cinta dengan lawan jenis..
Yang dapat melelehkan jiwa seni..
Dan bersamamu teman..
Kita kan bersama-sama meraih mimpi..
Sebelum salah satu dari kita menyerah..

Kalau hidup hanya sekali..
Aku akan menghabiskan darahku sebanyak mungkin..
Dengan berdonor setiap waktunya..

Kalau hidup hanya sekali..
Aku memilih mati..
Dengan menjatuhkan diriku ke dalam jurang yang dalam..
Dan mayatku lenyap ditelan ombak..

Atau..
Aku akan mendaftar organ tubuh ini..
Untuk didonorkan..
Dimulai dari mata, hati, jantung, ginjal, paru-paru, otak dan kulit..
Sehingga mayatku hanya tinggal tulang-belulang yang tak dikenali..
Musnah terbakar api..

Kalau hidup hanya sekali..
Ah…..
Seandainya hidup hanya sekali..
Aku tak perlu bertemu dengan kalian semua lagi..

“Mimpi Esok Pagi”

Pagiku membingungkan…
Saat setiap aktivitas dijalankan,
aku terduduk lemah dengan angan
Dilanjuti tidur makan tidur makan

Pagiku membanjiri…
Tiap peluh yang ku buat jadi saksi
Tiap derai juga linang menangisi
Ah, sudahlah, toh aku belum mati!

Pagiku mungkin tak terulang
Setelah kanker menggenang,
menggerogoti dengan senang
Dan berjuta tetes harapan jadi hilang

Namun telah datang suatu pagi
Ketika esok hari belum juga pasti
Tuhan harap beri mimpi
Agar manusia terus berharap dalam sunyi

"Penggalan Munajah Kitab Al Hikam"

Ilahi,
dengan sifat-sifat-Mu yang lembut
dengan halusnya welas asih
Engkau pun tahu aku lemah
tiadalah Engkau menolak
dengan sifat lembut dan welas-Mu
dari kelemahan diriku

Ilahi,
bagaimana aku menjadi wakil-Mu
untuk mengurus diriku
padahal Engkau penjamin bagiku
betapa aku akan terhina
padahal Engkau Sang Penolong
bagaimana mungkin aku kecewa
padahal Engkau Maha Pengasih

Ilahi,
betapa diriku mendapat elus kehalusan-Mu
yang Maha Agung
padahal aku bodoh dalam kejahilanku
besar nian rahmat-Mu
karena begitu buruk perilaku diriku

Ilahi,
begitu Engkau dekat dariku
begitu jauhnya aku dari-Mu

Ilahi,
dosa telah menutup pandanganku
kemurahan-Mu membisikkan padaku
ketika putus asa menggerogoti jiwaku
aku menemukan rahmat-Mu
karena aku insan rendahan
karunia-Mu juga yang membukakan harapan

Ilahi,
aku pontang panting di alam ini
karena begitu jauh jalan hidup ini
dekatkan aku pada jarak Mu
oleh amal yang segera aku datang di hadapan-Mu

Ilahi,
tiada kehinaan yang tidak nampak oleh-Mu
perihalku yang tiada tersembunyi bagi-Mu
aku berharap dari pancaran Nur-Mu
agar aku tiba di depan-Mu
dan aku peroleh hidayah-Mu
kokohkan jiwaku
agar sungguh pengabdianku pada-Mu

Ilahi,
mestikah aku kecewa,
padahal Engkau harapanku
betapa aku bisa terhina
padahal kepadamu saja aku berserah.

Wahai Zat yang bernaung di dalam tembok kemuliaan
sehingga tiada tercapai pandangan penglihatan
Wahai Zat yang menjelmakan keindahan penuh kesempurnaan
terbuktilah itu dalam hati dan perasaan
Engkau tampak jelas walau dalam persembunyian
Engkau Maha gaib tetapi memberi pengawasan
Engkau Taufiqur Rahman
tempat kami mengajukan pertolongan..

“Puisi Bingkai Malam“

Untukmu aku bertanya.
Tentang relung itu, relung malam.
di pelupuk mentari.
Betapa aku berkali-kali hanyut melodi senjamu.
Untukmu juga, lihat pundak itu.
pundak retak bingkai malam.
Betapa retaknya membuat relungku terjungkal.

Untukmu,
di bingkai malam ini rembulan bergurau.
Dia kata tetes permatamu biru.
Biru, benar, layaknya tiraimu,
Tirai hatimu membiru terhempas rembulan.

Andai engkau tahu.
Biorama irama malam penuh tanya.
Aku kira ini malam panjang.
Dan aku merasa, mungkin
sengaja ia tutup persegi cahaya, lagi.
dengan tirai permata biru, seakan ingin.
relung senyum mu tak lekas lepas.
dari bingkai malamku.

By : Febrian Tegar Wicaksana

“Poligami”

Mulut mereka bersungut..
Mata melotot hendak copot..
Mereka memandang bagai hina..
Menjaga kelamin dari dosa,
guru ngaji beristri dua..

Mulut mereka terbalut..
Mata mereka tertutup..
Dibawah selimut kamar melati..
Membungkus kelamin dengan dosa,
suami mereka bergumul mesra..

"Membersihkan diri"

Tubuhku terikat bagai simpul mati..
Iblis bengis merajut benang kusut dimulutku,
dari bibir bergincu siluman nafsu..
Iblis bengis menyiram air kencing ke mulutku,
dari botol-botol jin penghayal..
Iblis bengis menaburkan tubuh laknat,
dari gerak erotik hantu erotik..

Ingin ku berlari kesebuah pondok..
Dikelilingi santri dihadapan kiyai..
Membuka simpul mati..
Meluruskan benang kusut dengan sabna Nabi..
Membasuh air kencing dengan Ayat Suci..
Membersihkan diri dengan Zikir illahi..

Puasa Membakar Hijab

Rasa manis yang tersembunyi,
Ditemukan di dalam perut yang kosong ini!
Ketika perut kecapi telah terisi,
ia tidak dapat berdendang,
Baik dengan nada rendah ataupun tinggi.

Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,
Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan serta dalam hasratmu.

Sebening Air Mata

Air mata..
Zahirnya titisan bening terbit dari pelupuk mata
Mengalir kala kolam sepasang mata tiada mampu mengempangnya
Namun..
walau hanya titisan air tampak tiada harga
memberi sejuta makna pada pemilik raga
Ekspresi gelojak dan rasa di jiwa

Air mata dan tangis…
Bahasa pertama seorang manusia
untuk dewasa mencari punca
apa ingin dikhabar si kecil tercinta
Inginnya, sakit, lapar,takut, tidak selesa
tangisan dan air mata menjadi bahasa

Air Mata dan tangis
Kala sanubari dirangkul gembira..
Titis itu cermin terharu dan bahagia
Menggamit insan memandang ikut ceria
menangis gembira hati bahagia

Air Mata…
Kala kesakitan tiada terperi
Titis itulah bercerita pada pemerhati
walau ulas bibir rapat terkunci
cukup buat insan mengerti

Air Mata..
Kala sanubari dihimpit duka
titis itu teman derita
meringan beban hati sengsara
Engkaulah teman kala bahagia dan nestapa

Air Mata..
Engkaulah teman rafik raga dan sanubari
Engkau hanya biasa bagi yang tidak mengerti
hakikatnya engkaulah pembela di akhirat nanti
jika gugurmu kerana Ilahi

Air Mata..
Gugurlah engkau kerana takutku pada yang Esa
Gugurlah engkau kerana takutku pada azab di alam baqa
Gugurlah engkau kerana takutku pada azab neraka
Gugurlah engkau kerana takutku menghadapi dahsyatnya akhirat sana

Gugurlah engkau kala keinsafan di atas segala dosa
Gugurlah engkau kala rasa hinanya diriku di sisi Yang Esa
Gugurlah engkau kala kumemohon diampun dosa dan alpa
Gugurlah engkau kala kumemohon taubatku diterima

Gugurlah engkau kala kumemohon petunjukNya
Gugurlah engkau kala kumemohon bantuanNya
Gugurlah engkau kala ku memohon mati dalam rahmatNya
Gugurlah engkau kala kumemohon menghuni syurgaNya

Gugurlah engkau kala kumengharap redhaNya
Gugurlah engkau kala kumengharap cintaNya
Gugurlah engkau kala kurindu pada Pencipta
GUgurlah engkau kala kurindu hampir padaNya
Gugurlah engkau kala ku rindu pada kekasihNya

Gugurlah engkau kala kusujud pada yang Kuasa
Gugurlah engkau kala kutadabbur Kalam yang Esa
Gugurlah engkau kala zikirku pada Yang Kuasa
Gugurlah engkau kerana Yang Esa

kerana kuingin setiap titismu menjadi pembelaku
kerana kuingin setiap titismu menjadi saksiku
kerana kuingin setiap titismu menyelamatkan diriku
kerana kungin setiap titismu membawa ku ke syurga idamanku
kerana kuingin setiap titismu kudapat melihat wajah Rabbku..
kerana kuingin setiap titismu bawa bahagia abadi buatku
walau engkau hanya setitis air membasahi pipi

Saturday, June 18, 2011

Booklet of The Bank Indonesia National Clearing System (SKNBI)


Indonesia now has 105 local clearing operators, which consist of units managed directly by Bank Indonesia and third parties appointed by Bank Indonesia. Transactions processed through the clearing system include debit transfers and credit transfers accompanied by exchange of paper debit instruments (cheques, bilyet giro, debit notes, etc.) and credit instruments. Credit transfers may be processed in clearing only in amounts below Rp 100,000,000.00. If the amount is Rp 100,000,000.00 or more, the transaction must proceed through the Bank Indonesia Real Time Gross Settlement System (BI-RTGS System).

To perform the clearing operations, 4 (four) different systems are used:

The Electronic Clearing System, known as the SKEJ and used in Jakarta;
The Automatic Clearing System, used in Surabaya, Medan and Bandung;
The Semi-Automatic Local Clearing System, known as SOKL and used in 33 clearing areas operated by Bank Indonesia and 37 other clearing areas operated by third parties appointed by Bank Indonesia, and
The Manual System (at 31 non-BI operators).
Progress in information technology has been matched by the need for greater efficiency in clearing operations. With average daily volume at about 300,000 transaction items, it has become necessary to re-examine the use of paper instruments for interbank funds transfers, particularly in regard to printing costs and the processing procedures for the instruments themselves. On the other hand, processing of interbank credit transfers through the BI-RTGS system is paperless. Additionally, the different forms of clearing systems currently in use and the restriction on clearing of interbank credit transfers to the local area (transfers only between banks within the same clearing area) mean that interbank funds transfers outside the local region must be processed by the bank itself using other mechanisms.

Concerning the management of risks arising in clearing based on multilateral netting, hitherto there has been no mechanism in place to anticipate the possibility that members may default on settlement of clearing results.
Responding to this issue, Bank Indonesia has launched the SKNBI to accommodate paperless interbank credit transfers throughout Indonesia as part of the effort to build an efficient, rapid, secure and reliable payment system. In a related action, Bank Indonesia introduced the Failure to Settle (FtS) mechanism designed to minimise risks to Bank Indonesia arising from its clearing operations.

With the SKNBI slated to replace the clearing system currently in use at the 105 clearing operators in Indonesia, the changeover to the SKNBI will take place in stages. In the first phase, the SKNBI was launched in Jakarta on 29 July 2005.

Bank of Indonesia

Monetary Policy Review Bank of Indonesia June 2011

Board of Governors view that Indonesian economic performance is continuously stronger. In Q2-2011, domestic economic continues to expand and stronger than previously forecasted, supported particularly by improving export performance in line with larger world trade volume and the rise in international commodity prices. Meanwhile, the growth of investment and household consumption is predicted to remain strong, buttressed by optimism on the economy as well as the rise in purchasing power of consumers. The economic expansion is still supported by the growth of transportation and communication sector, industry sector, as well as financial sector. The continuing robust domestic economic activities confirm the outlook of economic growth to potentially reach the upper bound of 6.0-6.5% in 2011.

Indonesia’s balance of payment in Q2-2011 is estimated to record a sizable surplus. The stronger domestic and external economies have boosted the increase in imports, particularly oil and gas, to meet domestic consumption. That condition results in the decrease of current account surplus compared to previous quarters. In capital and financial account, however, positive perception of investors on Indonesia’s economic fundamentals amid attractive return of domestic assets boosts foreign direct investment (FDI) and the inflows of portfolio investment. This condition results in a higher capital and financial account surplus compared with the surplus in Q1-2011, and more than compensate the declining current account surplus. At the end of May 2011, the international reserves reached USD 118.1 billion, or equivalent to 6.9 months of imports and external debt services of the Government.

Rupiah continues to appreciate, albeit at moderated level, along with continuing capital inflows. In May 2011, rupiah appreciated by 0.33% (ptp) to Rp 8,536 per USD with volatility remained in check. The continuing trend of Rupiah appreciation is in line with Bank Indonesia efforts to mitigate inflation pressures, particularly those stemming from imported inflation, with pay due regard to its impact to economic growth. Bank Indonesia believes that these Rupiah appreciation that in line with exchange rate appreciation in the Asian region does not put negative impacts to export performance, as shown at continuing strong export growth along with high international commodity prices and strong external demands.

The CPI inflation continues to decline, while the core inflation is still in increasing trend. The CPI inflation in May 2011 recorded 5.98% (yoy), or 0.12% (mtm), mainly driven by the continuing correction in inflation of food prices. Inflation of administered prices also remains in check in line with the absence of Government policy on the prices of strategic commodities. Nevertheless, core inflation is in a rising trend, reaching 4.64 (yoy) or 0.27 (mtm). The continuing increase in core inflation is driven by the increase in global commodity prices, accelerating domestic demand, and relatively high inflation expectation. Going forward, Bank Indonesia is continuously vigilant to these risks on accelerating core inflation pressures, as well as inflation pressures that may rise from Government policy relating to fuel and electricity subsidies.

Banking system stability remains sound with accelerated credit growth. Banking sector shows stable development, as reflected by high capital adequacy ratio (CAR) is managed above minimum 8% while the ratio of non-performing loans (NPLs) is managed below 5%. Meanwhile, credit disbursement to finance economic activities is continuing, as reflected by credit growth in May 2011 that reached 23.3% (yoy). Bank Indonesia will continuously monitor banking sector condition and improve the sector efficiency so that intermediation function can be optimized.

In the Board of Governors’ Meeting held on Monday 12, 2011, Bank Indonesia decided to keep the BI rate unchanged at 6.75%. Board of Governors view that the overall economic performance is strong, accompanied by continuing large capital inflows and trend in Rupiah appreciation albeit at moderated levels. Inflation pressures are decelerating with continuing correction in the food prices. Going forward, Bank Indonesia remains vigilant on a number of risks that may put pressures on overall macroeconomic stability, particularly with continuing large capital inflows, acceleration in domestic demands, and renewed pressures on inflation outlook toward 2012. Bank Indonesia will strengthen the policy mix of monetary and followed-up macroprudential measures, with a focus on managing capital inflows and domestic liquidity, along with exchange rate appreciation in line with exchange rate appreciation in the Asian region. Bank Indonesia is strongly confident that the implementation of these monetary and macroprudential policy mix can secure macroeconomic stability and keep inflation within the targets, that is, 5%±1% in 2011 and 4,5%±1% in 2012.

The BI-RTGS system

In 2000, Bank Indonesia introduced stakeholders in the national banking system to a concept

known as real time gross settlement (RTGS). The BI-RTGS system is a process for settlement of individual payment transactions that operates in real time. Using the BI-RTGS mechanism, member accounts can be debited (or credited) multiple times daily in keeping with payment orders and incoming payments.

Transactions ordered by sending members are transmitted to the RTGS processing centre at BI to be processed for settlement. If the settlement process is successful, the payment information will be forwarded to the receiving member in an automatic, electronic process. For settlement to be completed, certain conditions must be met. The member bank ordering the transaction must have sufficient account balance at the central bank. Why is this? The BI-RTGS system allows members only to credit the accounts of other members.

Under these rules, RTGS member banks must keep close track of account balances at BI to ensure availability of sufficient funds. If this requirement is neglected, an RTGS bank with insufficient liquidity during the settlement process will be placed in the queue. Until when? That’s right, until the RTGS member bank again has sufficient account balance to complete the transaction. BI-RTGS member banks are therefore required to maintain a sufficient level of liquidity (account balance).

There are at least three important reasons for BI to process settlement using the RTGS. First, literature reviews and results of empirical studies indicate an emerging awareness among central banks all over the world on managing the risks of Large Value Transfer Systems (LVTS). The BI-RTGS system has the capacity to reduce systemic risk. Systemic risk is the risk of default by one member in settling liabilities when due and payable that could also place other member banks in jeopardy. Under extreme conditions, the default could potentially trigger financial difficulties on a wide scale threatening payment system stability.

The second reason is that the RTGS system can reduce the incidence of float, and thus improve bank supervision effectiveness. Similarly, sound liquidity management in the banking sector will also support monetary policy effectiveness. Third, the RTGS system offers opportunity for integration with various payment system applications. Just one example involves money market and capital market trading under the Delivery versus Payment (DVP) rule. Alternatively, cross border payments can be processed with the Payment versus Payment (PVP) application.

The BI-RTGS system was launched with a number of objectives. For example, the BI-RTGS system would provide faster and more efficient, reliable and secure funds transfers among members. In addition, it would at least offer assurance of more immediate settlement. The RTGS system would display comprehensive information on the settlement account balances of members in real time. RTGS members would also be required to manage their liquidity along disciplined and professional lines. Combined with the benefits of the RTGS system, all this was envisaged as minimising settlement risks.

Before settlement by RTGS was introduced to the public, the other means of settlement commonly used was the clearing system. The methods employed in the clearing system differ widely from the RTGS. The clearing system employs net settlement, a process in which payments are settled at the end of a period in what is called offsetting of payment liabilities against claims. In this way, there is only 1 (one) claim or liability to be settled for the account of each bank.

However, use of the clearing system has its risks. At end of day, a bank could be carrying a substantial clearing deficit. Before the launching of the BI-RTGS system, both retail and high value payments were processed through clearing in amounts that at times would exceed the available account balance at BI. As a result, the bank would carry an overdraft. If the bank incurred a large overdraft, BI could face difficulties if the bank was unable to repay the overdraft on the next day. In contrast, the RTGS system employs the gross settlement method, in which each transaction is processed individually.

The BI-RTGS application is now in operation at all Bank Indonesia Regional Offices in Indonesia. The system has 150 members, of which 149 are banks and one is a non-bank institution. Indonesia is the eighth country in Asia to implement the RTGS system. Worldwide, the system is in operation in 30 countries.

Pulau Sampah di Teluk Jakarta

Usaha penanganan sampah di Perairan Teluk Jakarta oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara

tumpang tindih dengan Pemerintah Pusat. Akibatnya, penanganan sampah di perairan Jakarta terkatung-katung. Saat ini banyak kapal ukuran besar, pabrik dan industri - industri lainnya yang membuang limbah cair ke laut, dan juga banyaknya sampah yang mengalir dari 13 sungai yang bermuara di teluk jakarta. dan saking parahnya tumpukan sampah di teluk jakarta menjadi menyerupai pulau, ya "pulau sampah" itu menunjukkan belum maksimalnya penanganan sampah di ibu kota ini, bayangkan saja sampah sebanyak itu hanya di bersihkan dengan tenaga pembersih 4o orang saja dengan peralatan yang seadanya. Maka disini diharapkan pemkot DKI lebih memberikan perhatian lebih agar masalah sampah tersebut dapat segera teratasi dan teluk jakarta segera bebas dari sampah dan limbah pencemaran lingkungan. Dan tidak hanya itu, usaha pemkot DKI akan terasa sangat sia -sia dan permasalahan sampah tersebut tidak akan pernah teratasi jika kesadaran masyarakat akan tidak membuang sampah sembarangan terutama ke sungai masih rendah, oleh sebab itu permasalahan sampah dijakarta adalah tanggung jawab semua masyarakat bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. so, untuk masyarakat Jakarta, mulai dari sekarang dah jaga kebersihan dan jangan buang sampah sembarangan terutama ke sungai.. anyway SELAMAT ULANG TAHUN DKI JAKARTA KE 484.. semoga kedepannya jakarta lepas dari permasalahan yang dihadapi yang semua orang juga tau akan permasalahan tersebut... aminnnn...

Friday, June 17, 2011

Untuk Calon Istriku Kelak...

Pernikahan atau Perkawinan,
Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setaqwa Ibrahim,

Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf
Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita,

Membangun keturunan yang soleh solehah...
Pernikahan atau Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,

Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singgasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,

Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya
Pernikahan atau Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,

Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna didalam menjaga
Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsara
cuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah ...

C.I.N.T.A

Ya Aziz..........
Jika Cinta Adalah Ketertawanan
Tawanlah Aku Dengan Cinta Kepada-Mu
Agar Tidak Ada Lagi Yang Dapat
Menawanku Selain Engkau

Ya Rohim..........
Jika Cinta Adalah Pengorbanan
Tumbuhkan Niat Dari Semua Pengorbananku
Semata-mata Tulus Untuk-Mu
Agar Aku Ikhlas Menerima Apapun Keputusan-Mu

Ya Robbii..........
Jika Rindu Adalah Rasa Sakit
Yang Tidak Menemukan Muaranya
Penuhilah Rasa Sakitku
Dengan Rindu Kepada-Mu
Dan Jadikan Kematianku Sebagai
Muara Pertemuanku Dengan-Mu
Ya Robbii..........
Jika Sayang Adalah Sesuatu Yang Mempesona
Ikatlah Aku Dengan Pesona-Mu
Agar Damai Senantiasa Kurasakan
Saat Terucap Syukurku Atas Nikmat Dari-Mu

Ya Allah..........
Jika Kasih Adalah Kebahagiaan
Yang Tiada Bertepi
Tumbuhkan Kebahagiaan Dalam Hidupku
Di saat Kupersembahkan Sesuatu Untuk-Mu

Ya Allah..........
Hatiku Hanya Cukup Untuk Satu Cinta
Jika Aku Tak Dapat Mengisinya Dengan Cinta Kepada-Mu
Kemanakah Wajahku Hendak Kusembunyikan Dari-Mu

Ya Ar-Rahman.........
Dunia Yg Engkau Bentangkan Begitu Luas
Bagai Belantara Yg Tak Dapat Kutembus
Di Malam Yang Gelap Gulita
Agar Tidak Tersesat Dalam Menapakinya

Ya Ar-Rahhim…….
Berikan Alas Kaki Buat Hamba Agar Jalan Yg Kutapaki Terasa Nikmat
Meski Penuh Dengan Bebatuan Runcing & Duri Yang Tajam
Hamba Sadar Semua Ini Milikmu Dan Suatu Saat
Jika Kau Kehendaki Semuanya Akan Kembali Jua Kepada-Mu

Hamba pasrahkan kehidupan hamba kepada-Mu.

Pernikahan

Berpasangan engkau telah diciptakan,
Dan selamanya engkau akan berpasangan.

Bersamalah dikau tatkala Sang Maut merenggut umurmu,
Ya, bahkan bersama pula kalian, dalam ingatan sunyi Tuhan.
Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu,
Tempat angin surga menari-nari di antaramu.

Berkasih-kasihanlah, namun jangan membelenggu cinta,
biarkanlah cinta itu bergerak senantiasa
seperti aliran air sungai yang mengalir lincah di antar kedua belahan jiwa.

Saling isilah piala minumanmu, tapi jangan minum dari satu piala,
Saling bagilah rotimu, tapi jangan makan dari pinggan yang sama.
Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala sukacita,
Hanya biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya.

Tali rebana masing-masing punya hidup sendiri,
Walau lagu yang sama sedang menggetarkannya.
Berikan hatimu, namun jangan saling menguasakannya,
Sebab hanya Tangan Kehidupan yang akan mampu menggapainya

Tegaklah berjajar, namun jangan terlampau dekat:
Bukankah tiang-tiang candi tidak dibangun terlalu rapat?
Dan pohon jati serta pohon cemara,
Tiada tumbuh dalam bayangan satu dengan lainnya..

By: Kahlil Gibran

Pendapatan Regional Kota Tangerang Selatan

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Kota Tangerang Selatan pada tahun 2007 adalah sebesar Rp.5.256.882,05 Juta, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan adalah sebesar Rp.2.768.787,17 Juta. Dengan jumlah penduduk pertengahan tahun 2007 mencapai 1.042.682 orang, PDRB per kapita adalah sebesar Rp.5,042 Juta. Perkembangan PDRB Kota Tangerang Selatan cenderung menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun demikian juga dengan PDRB per kapita. Pada tahun 2007, laju pertumbuhan ekonomi (LPE) adalah sebesar 6,51%. Pada tahun 2003, PDRB per kapita atas dasar harga konstan adalah sebesar Rp.863.517 sedangkan pada tahun 2007 adalah sebesar Rp.1.042.682.
Kecamatan yang memberikan kontribusi paling besar adalah Ciputat Timur yaitu sebesar Rp.1.678.739,29 Trilyun atau 31,93% dari total PDRB sedangkan yang terkecil adalah Setu dengan Rp.71.045,74 Trilyun atau 1,35%.
Berdasarkan data PDRB tahun 2007, struktur ekonomi Kota Tangerang Selatan didominasi oleh sektor lapangan usaha pengangkutan dan komunikasi (30,29%) dan perdagangan hotel dan restoran (26,81%). Sektor lain yang juga memberikan kontribusi cukup besar adalah jasa-jasa (17,39%) dan bank, persewaan dan jasa perusahaan (15,40%). Lima sektor lain masing-masing memberikan kontribusi di bawah 10%. (Gambar 8.1)

Struktur ekonomi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Tangerang Selatan didominasi oleh sektor tersier, yaitu pengangkutan dan komunikasi; perdagangan hotel dan restoran; jasa-jasa; dan bank, persewaan dan jasa perusahaan, yang memberikan kontribusi hampir 90%. Sektor sekunder (industri pengolahan; listrik, gas dan air bersih; dan konstruksi) memberikan kontribusi 8,76%, dan sektor primer (pertanian; pertambangan dan penggalian) hanya memberikan kontribusi kurang dari 2%. Jika dilihat kecenderungan sejak tahun 2004 hingga tahun 2007, sektor primer dan sekunder mengecil kontribusinya secara signifikan sedangkan sektor tersier meningkat kontribusinya.

Sumber Situs Resmi Tangsel

Thursday, June 16, 2011

Pernikahan Tempat Bermuaranya Fitrah Yang Suci Dan Hakiki

“Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai (sesuatu yang sangat menyenangkan) seperti pernikahan” (Sunan Ibnu Majah)

Pernikahan dalam islam merupakan sebuah kewajiban bagi yang mampu.Dan bagi insan manusia yang saling menyintai pernikahan seharusnyalah menjadi tujuan utama mereka.

Karena itulah percintaan yang tidak mengarah kepada pernikahan bahkan disertai hal-hal yang haramkan
agama sangat tidak disarankan oleh islam.Cinta dalam pandangan islam bukanlah hanya sebuah Ketertarikan secara fisik , dan bukan pula pembenaran terhadap perilaku yang dilarang agama.Karena hal ini bukanlah cinta melainkan sebuah lompatan birahi yang besar saja yang akan segera pupus.Karena itu cinta memerlukan kematangan dan kedewasaan untuk membahagiakan pasangannya bukan Menyengsarakannya dan bukan juga menjerumuskannya ke jurang maksiat.

Percintaan tanpa didasarkan oleh tujuan hendak menikah adalah sebuah perbuatan maksiat yang diharamkan oleh agama.Karena batas antara cinta dan nafsu birahi pada dua orang manusia yang saling menyintai sangatlah tipis sehingga pernikahan adalah sebuah obat yang sangat tepat untuk mengobatinya.

Pernikahan adalah sebuah perjanjian suci yang menjadikan Allah SWT sebagai pemersatunya.Dan tidak ada yang melebihi ikatan ini.Dan inilah puncak segala kenikmatan cinta itu dimana kedua orang yang saling menyinta itu memilih untuk hidup bersama dan saling berjanji untuk saling mengasihi dan berbagi hidup baik suka maupun duka.

Cinta Adlah Fitrah Yang Suci Dan Hakiki

Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah SWT di dalam jiwa manusia , yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Ar Rum ayat 21)

Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor , karena kekotoran dan kesucian tergantung Dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram

Cinta mengandung segala makna kasih sayang , keharmonisan , penghargaan dan kerinduan , disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka , lapang dan sempit.

Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya.Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia.Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia .Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga , dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.

Islam mebersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram.

Kutemukan Kembali Cintaku Pada-MU

Kau adalah jiwaku
kau adalah ragaku
kau adalah darahku
kau adalah jantungku

beberapa saat silam
diri ini goyah
jiwa ini gundah
dan akal ini terbelah

sehingga ku jauh dariMU
sehingga ku lupa akan adanya diriMU
sehingga ku lupa akan kebesaranMU
sehingga ku lupa akan keagunganMU

sekarang ku tersadar akan itu semua
disaat hati ini telah gundah
disaat akal ini telah tak rasio
disaat jiwa ini telah tak menentu

sekarang yang ada hanya penyesalan
dan rasa syukur yang teramat dalam kepadaMU
karena kau telah mengucurkan rahmat dan hidayahMU
sehingga ku tersadar kembali akan keagunganMU

alhamdulillah..
alhamdulillah..
alhamdulillah..

terima kasih ya ALLAH atas segala rahmat dan karuniaMU
satu do'a dan pintaku saat ini
jangan jauhkan lagi diriku denganMU
sehingga kedepannya diri ini tetap istiqomah dijalan yang engkau ridhai..

amin yaa rabbala'lamin...

Hanya Cinta

semua yang telah aku dapat
indah dan gemerlap
satu hari kan pudar
dan sinarnya akan hilang

sesuatu yang telah aku raih
di dalam hidup ini
tak untuk selamanya
ini semua sementara

yang aku cari hanyalah cinta
hanya cinta yang tak terganti
yang aku mau hanyalah cinta
hanyalah cinta yang ku beri

yang selalu ku tunggu hanyalah cinta
hanya cinta yang tak terganti
yang aku nanti hanyalah cinta
hanyalah cinta yang abadi

mencari artinya hidup ini
detak waktu masih ada
ada yang paling berwarna
apa yang kan sia-sia

By: Anggun

Sistem Pembayaran Di Indonesia

:: Apa Itu Sistem Pembayaran (SP)?

Apa itu SP? SP adalah sistem yang mencakup seperangkat aturan, lembaga, dan mekanisme yang dipakai untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi. Lantas, apa saja komponen dari SP? Sudah barang tentu harus ada alat pembayaran, ada mekanisme kliring hingga penyelesaian akhir (settlement). Nah, selain itu juga ada komponen lain seperti lembaga yang terlibat dalam menyelenggarakan sistem pembayaran. Termasuk dalam hal ini adalah bank, lembaga keuangan selain bank, lembaga bukan bank penyelenggara transfer dana, perusahaan switching bahkan hingga bank sentral (lihat Perkembangan).

:: Evolusi Alat Pembayaran

Alat pembayaran boleh dibilang berkembang sangat pesat dan maju. Kalau kita menengok kebelakang yakni awal mula alat pembayaran itu dikenal, sistem barter antarbarang yang diperjualbelikan adalah kelaziman di era pra moderen. Dalam perkembangannya, mulai dikenal satuan tertentu yang memiliki nilai pembayaran yang lebih dikenal dengan uang. Hingga saat ini uang masih menjadi salah satu alat pembayaran utama yang berlaku di masyarakat. Selanjutnya alat pembayaran terus berkembang dari alat pembayaran tunai (cash based) ke alat pembayaran nontunai (non cash) seperti alat pembayaran berbasis kertas (paper based), misalnya, cek dan bilyet giro. Selain itu dikenal juga alat pembayaran paperless seperti transfer dana elektronik dan alat pembayaran memakai kartu (card-based) (ATM, Kartu Kredit, Kartu Debit dan Kartu Prabayar).

:: Alat Pembayaran Tunai

Alat pembayaran tunai lebih banyak memakai uang kartal (uang kertas dan logam). Uang kartal masih memainkan peran penting khususnya untuk transaksi bernilai kecil. Dalam masyarakat moderen seperti sekarang ini, pemakaian alat pembayaran tunai seperti uang kartal memang cenderung lebih kecil dibanding uang giral. Pada tahun 2005, perbandingan uang kartal terhadap jumlah uang beredar sebesar 43,3 persen.

Namun patut diketahui bahwa pemakaian uang kartal memiliki kendala dalam hal efisiensi. Hal itu bisa terjadi karena biaya pengadaan dan pengelolaan (cash handling) terbilang mahal. Hal itu belum lagi memperhitungkan inefisiensi dalam waktu pembayaran. Misalnya, ketika Anda menunggu melakukan pembayaran di loket pembayaran yang relatif memakan waktu cukup lama karena antrian yang panjang. Sementara itu, bila melakukan transaksi dalam jumlah besar juga mengundang risiko seperti pencurian, perampokan dan pemalsuan uang.

Menyadari ketidak-nyamanan dan inefisien memakai uang kartal, BI berinisiatif dan akan terus mendorong untuk membangun masyarakat yang terbiasa memakai alat pembayaran nontunai atau Less Cash Society (LCS).

:: Alat Pembayaran Nontunai

Alat pembayaran nontunai sudah berkembang dan semakin lazim dipakai masyarakat. Kenyataan ini memperlihatkan kepada kita bahwa jasa pembayaran nontunai yang dilakukan bank maupun lembaga selain bank (LSB), baik dalam proses pengiriman dana, penyelenggara kliring maupun sistem penyelesaian akhir (settlement) sudah tersedia dan dapat berlangsung di Indonesia. Transaksi pembayaran nontunai dengan nilai besar diselenggarakan Bank Indonesia melalui sistem BI-RTGS (Real Time Gross Settlement) dan Sistem Kliring. Sebagai informasi, sistem BI-RTGS adalah muara seluruh penyelesaian transaksi keuangan di Indonesia.

Bisa dibayangkan, hampir 95 persen transaksi keuangan nasional bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent) seperti transaksi di Pasar Uang AntarBank (PUAB), transaksi di bursa saham, transaksi pemerintah, transaksi valuta asing (valas) serta settlement hasil kliring dilakukan melalui sistem BI-RTGS. Pada tahun 2010, BI-RTGS melakukan transaksi sedikitnya Rp174,3 triliun per hari. Sedangkan transaksi nontunai dengan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) dan uang elektronik masing-masing nilai transaksinya hanya Rp8,8 triliun per hari yang dilakukan bank atau LSB.

Melihat pentingnya peran BI-RTGS dalam sistem pembayaran nasional, sudah barang tentu harus dijaga kontinuitas dan stabilitasnya. Bila sesaat saja sistem BI-RTGS ini ngadat atau mengalami gangguan jelas akan sangat menganggu kelancaran dan stabilitas sistem keuangan di dalam negeri. Hal itu belum memperhitungkan dampak material dan nonmaterial dari macetnya sistem BI-RTGS tadi. Untuk itulah BI sangat peduli menjaga stabilitas BI-RTGS yang dikategorikan sebagai Systemically Important Payment System (SIPS). SIPS adalah sistem yang memproses transaksi pembayaran bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent).Adalah wajar saja apabila Bank Indonesia sangat peduli menjaga kestabilan SIPS dengan mengelola risiko, desain, kehandalan teknologi, jaringan pendukung dan aturan main dalam SIPS. Selain SIPS dikenal pula System Wide Important Payment System (SWIPS), yaitu sistem yang digunakan oleh masyarakat luas. Sistem Kliring dan APMK termasuk dalam kategori SWIPS ini. BI juga peduli dengan SWIPS karena sifat sistem yang digunakan secara luas oleh masyarakat. Apabila terjadi gangguan maka kepentingan masyarakat untuk melakukan pembayaran akan terganggu pula, termasuk kepercayaan terhadap sistem dan alat-alat pembayaran yang diproses dalam sistem.

Perlu diketahui bahwa BI bukan semata peduli akan terciptanya efisiensi dalam sistem pembayaran, tapi juga kesetaraan akses hingga ke urusan perlindungan konsumen. Yang dimaksud terciptanya sistem pembayaran, itu artinya memberi kemudahan bagi pengguna untuk memilih metode pembayaran yang dapat diakses ke seluruh wilayah dengan biaya serendah mungkin. Sementara yang dimaksud dengan kesetaraan akses, BI akan memperhatikan penerapan asas kesetaraan dalam penyelenggaraan sistem pembayaran. Sedangkan aspek perlindungan konsumen dimaksudkan penyelenggara wajib mengadopsi asas-asas perlindungan konsumen secara wajar dalam penyelenggaraan sistemnya.

Sumber: Bank Indonesia

Sekilas Perbankan Syariah Di Indonesia

Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional.

Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinimati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

Dalam konteks pengelolaan perekonomian makro, meluasnya penggunaan berbagai produk dan instrumen keuangan syariah akan dapat merekatkan hubungan antara sektor keuangan dengan sektor riil serta menciptakan harmonisasi di antara kedua sektor tersebut. Semakin meluasnya penggunaan produk dan instrumen syariah disamping akan mendukung kegiatan keuangan dan bisnis masyarakat juga akan mengurangi transaksi-transaksi yang bersifat spekulatif, sehingga mendukung stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian kestabilan harga jangka menengah-panjang.

Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Dengan progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan.


Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia
Untuk memberikan pedoman bagi stakeholders perbankan syariah dan meletakkan posisi serta cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia, selanjutnya Bank Indonesia pada tahun 2002 telah menerbitkan “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia”. Dalam penyusunannya, berbagai aspek telah dipertimbangkan secara komprehensif, antara lain kondisi aktual industri perbankan syariah nasional beserta perangkat-perangkat terkait, trend perkembangan industri perbankan syariah di dunia internasional dan perkembangan sistem keuangan syariah nasional yang mulai mewujud, serta tak terlepas dari kerangka sistem keuangan yang bersifat lebih makro seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI) maupun international best practices yang dirumuskan lembaga-lembaga keuangan syariah internasional, seperti IFSB (Islamic Financial Services Board), AAOIFI dan IIFM.

Pengembangan perbankan syariah diarahkan untuk memberikan kemaslahatan terbesar bagi masyarakat dan berkontribusi secara optimal bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu, maka arah pengembangan perbankan syariah nasional selalu mengacu kepada rencana-rencana strategis lainnya, seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API), Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI), serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Dengan demikian upaya pengembangan perbankan syariah merupakan bagian dan kegiatan yang mendukung pencapaian rencana strategis dalam skala yang lebih besar pada tingkat nasional.

“Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” memuat visi, misi dan sasaran pengembangan perbankan syariah serta sekumpulan inisiatif strategis dengan prioritas yang jelas untuk menjawab tantangan utama dan mencapai sasaran dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, yaitu pencapaian pangsa pasar perbankan syariah yang signifikan melalui pendalaman peran perbankan syariah dalam aktivitas keuangan nasional, regional dan internasional, dalam kondisi mulai terbentuknya integrasi dgn sektor keuangan syariah lainnya.

Dalam jangka pendek, perbankan syariah nasional lebih diarahkan pada pelayanan pasar domestik yang potensinya masih sangat besar. Dengan kata lain, perbankan Syariah nasional harus sanggup untuk menjadi pemain domestik akan tetapi memiliki kualitas layanan dan kinerja yang bertaraf internasional.

Pada akhirnya, sistem perbankan syariah yang ingin diwujudkan oleh Bank Indonesia adalah perbankan syariah yang modern, yang bersifat universal, terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Sebuah sistem perbankan yang menghadirkan bentuk-bentuk aplikatif dari konsep ekonomi syariah yang dirumuskan secara bijaksana, dalam konteks kekinian permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan dengan tetap memperhatikan kondisi sosio-kultural di dalam mana bangsa ini menuliskan perjalanan sejarahnya. Hanya dengan cara demikian, maka upaya pengembangan sistem perbankan syariah akan senantiasa dilihat dan diterima oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan negeri.

Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah
Sebagai langkah konkrit upaya pengembangan perbankan syariah di Indonesia, maka Bank Indonesia telah merumuskan sebuah Grand Strategi Pengembangan Pasar Perbankan Syariah, sebagai strategi komprehensif pengembangan pasar yg meliputi aspek-aspek strategis, yaitu: Penetapan visi 2010 sebagai industri perbankan syariah terkemuka di ASEAN, pembentukan citra baru perbankan syariah nasional yang bersifat inklusif dan universal, pemetaan pasar secara lebih akurat, pengembangan produk yang lebih beragam, peningkatan layanan, serta strategi komunikasi baru yang memposisikan perbankan syariah lebih dari sekedar bank.

Selanjutnya berbagai program konkrit telah dan akan dilakukan sebagai tahap implementasi dari grand strategy pengembangan pasar keuangan perbankan syariah, antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah pada fase I tahun 2008 membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.50 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 40%, fase II tahun 2009 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling atraktif di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.87 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 75%. Fase III tahun 2010 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah terkemuka di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.124 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 81%.

Kedua, program pencitraan baru perbankan syariah yang meliputi aspek positioning, differentiation, dan branding. Positioning baru bank syariah sebagai perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak, aspek diferensiasi dengan keunggulan kompetitif dengan produk dan skema yang beragam, transparans, kompeten dalam keuangan dan beretika, teknologi informasi yang selalu up-date dan user friendly, serta adanya ahli investasi keuangan syariah yang memadai. Sedangkan pada aspek branding adalah “bank syariah lebih dari sekedar bank atau beyond banking”.

Ketiga, program pemetaan baru secara lebih akurat terhadap potensi pasar perbankan syariah yang secara umum mengarahkan pelayanan jasa bank syariah sebagai layanan universal atau bank bagi semua lapisan masyarakat dan semua segmen sesuai dengan strategi masing-masing bank syariah.

Keempat, program pengembangan produk yang diarahkan kepada variasi produk yang beragam yang didukung oleh keunikan value yang ditawarkan (saling menguntungkan) dan dukungan jaringan kantor yang luas dan penggunaan standar nama produk yang mudah dipahami.

Kelima, program peningkatan kualitas layanan yang didukung oleh SDM yang kompeten dan penyediaan teknologi informasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabah serta mampu mengkomunikasikan produk dan jasa bank syariah kepada nasabah secara benar dan jelas, dengan tetap memenuhi prinsip syariah; dan

Keenam, program sosialisasi dan edukasi masyarakat secara lebih luas dan efisien melalui berbagai sarana komunikasi langsung, maupun tidak langsung (media cetak, elektronik, online/web-site), yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kemanfaatan produk serta jasa perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Sumber: Bank Indonesia

Peran Otoritas Jasa Keuangan Negara G20

Tatanan perekonomian dunia baru dipastikan segera terwujud pasca Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di London 2-4 April lalu. Peran sentral Amerika Serikat (AS) dalam percaturan perekonomian global semakin tergerus, setelah Negara Adi Daya itu dinilai gagal membendung jebolnya tanggul sistem keuangan domestik yang berimbas pada ketidakstabilan sistem keuangan internasional.

Salah satu komunike G20 yang disepakati oleh para penguasa 80 persen total perdagangan dunia dan tempat tinggal bagi 66 persen penduduk global tiu adalah regulasi industri keuangan yang lebih ketat dan aturan yang lebih banyak bagi lembaga keuangan internasional.

Selain itu, G20 juga mengubah fungsi Forum Stabilitas Finansial (FSF), kelompok pemikir informal milik sejumlah Bank Sentral, menjadi lembaga pengawas sistem keuangan global. Ketua FSF yang juga Gubernur Bank Sentral Italia Mario Draghi menyatakan, perubahan status FSF ini akan meningkatkan cakupan kegiatan FSF.

FSF akan meningkatkan pengawasan terhadap sektor keuangan baik pasar maupun instrumennya, penguatan pengawasan perbankan dan manajemen risiko, serta pengaturan hedge fund (kumpulan dana investasi yang juga dipakai berspekulasi) yang selama ini terlepas dari pengawasan dan turut berpera dalam krisis keuangan global.

Komunike ini mengingatkan kita pada krisis keuangan Asia yang menerpa Indonesia pada 1997-1998 lalu. Salah satu usulan yang dikemukakan ketika itu adalah perlunya dibentuk lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagaimana tertuang dalam revisi Undang-Undang Bank Indonesia (BI) tahun 2004.

Menurut UU itu, OJK yang merupakan lembaga pengawasan jasa keuangan seperti industri perbankan, pasar modal , reksadana, perusahaan pembiayaan, dana pensiun dan asuransi sudah harus terbentuk pada tahun 2010.

Kita perlu mengingatkan pemerintah agar ekstra hati-hati dan mengambil pelajaran berharga dari peran OJK di negara seperti Inggris yang dinilai gagal menjalankan tugas menjaga stabilitas sistem kauangannya.

Prahara keuangan yang terjadi di AS yang secara cepat mengalir dan menyebar pada sistem keuangan dunia, ditengarai diakibatkan oleh tak mampunya otoritas jasa keuangan Paman Sam itu dalam mengidentifikasi potensi macetnya subprime mortgage.


Oleh Muslimin Anwar
Dosen Pascasarjana FEUI

3 Alasan Rupiah Menguat

Selama lima bulan terakhir rupiah kian mencorong dan menguat 11,57 persen. Bila pada awal tahun 2009 rupiah tercatat Rp 11.235 per dolar AS, maka pada 5 Juni 2009, rupiah ditutup pada Rp.9.935 per dolar AS, tertinggi sepanjang tahun.

Setidaknya ada tiga faktor pendorong penguatan rupiah. Pertama, semakin membaiknya sektor keuangan Negara Paman Sam dan munculnya data pengangguran AS yang meskipun meningkat namun menunjukan perlambatan sehingga menambah keyakinan bahwa pemulihan ekonomi dunia sedang berlangsung.

Kedua, investor asing melihat aura positif berinvestasi di Indonesia setelah adanya perbaikan indikator faktor risiko domestik yang tercermin dari penurunan yield spread global bond Indonesia dengan US T-note 10 tahun dari 5,27 persen pada akhir April 2009 menjadi 4,32 persen pada akhir Mei 2009.Indikator ketertarikan investor pada Surat Utang Negara (SUN) yang tercermin dari selisih antara domestic government bond dan US Treasury juga tercatat tertinggi di kawasan Asia. Akibatnya, investor asing semakin agresif dalam menempatkan dananya di pasar modal domestik.

Ketiga, meningkatnya daya saing perekonomian Indonesia di tingkat global sebagai imbas dari berhasilnya reformasi kelembagaan yang dilakukan. Lembaga think tank dan pendidikan terkemuka dunia, IMD Competitive Center, yang berpusat di Lausanne Swiss, dalam laporannya berjudul World Competitiveness Yearbook 2009 telah meningkatkan peringkat daya saing Indonesia ditingkat global dari rangking 51 menjadi peringkat 42 dari seluruh 57 negara – negara utama dunia yang dinilai.

Semua itu semakin meningkatkan apetite investor khususnya asing untuk memburu rupiah, yang pada akhirnya berpengaruh positif terhadap pergerakan rupiah. Namun demikian, penguatan Rupiah terhadap dolar AS yang terlalu cepat dan terlalu signifikan (overvalued), dikhawatirkan akan memiliki dampak yang kurang bagus bagi neraca perdagangan.

Barang- barang ekspor Indonesia akan menjadi mahal dibanding barang – barang sejenis dari negara produsen yang tidak mengalami penguatan sebesar Rupiah. Selain itu, potensi membanjirnya barang impor seiring dengan apresiasi Rupiah semakin terbuka dan dikhawatirkan akan melibas barang produksi dalam negeri.

Oleh karena itu, Bank Indonesia harus secara cermat memonitor pergerakan rupiah agar tidak berdampak pada perekonomian secara nasional. Selain itu, Pemerintah perlu menyiapkan berbagai kebijakan untuk merendam masuknya barang – barang impor yang akan mematikan industri serupa di dalam negeri.

Sumber: Bank Indonesia

Bunda

Bunda termulia...
Jiwaku rela berkorban tuk bahagiamu
Kau tanggung derita demi derita saat mengandungku
Dua tahun lamanya kau tumbuhkan dagingku dengan air susu kesucian

Kau kokohkan tulangku dengan air susu ketabahan
Kau alirkan darahku dengan air susu kegigihan
Kau hidupkan harapanku dengan keteguhan imanmu
Kau bangun masa depanku dengan untai doamu

Tuhan mengasihi setiap tetes airmatamu
Tuhan memberkati tiap keringat dari tubuhmu
Tuhan merahmati setiap jejak tapak kakimu
Tuhan mencatat kebaikan dalam tiap hembus nafasmu

Ibunda...
Tak pernah kau pedulikan nasib dirimu
Kau jadikan tubuhmu benteng yang melindungi anakmu

Ibunda...
Tlah kau berikan hidupmu padaku
Kini, mudah bagiku mempersembahkan nyawa untukmu
Andai seluruh dunia berada dalam genggamanku
Kan kutumpahkan segala isinya di bawah tapak kakimu

Ingin kutumpahkan air mataku
Dan bersimpuh di hadapanmu
Kurangkai kata maaf atas kekuranganku

Meski kuhidup berjuta tahun
Kulalui siang dan malam tuk berbakti padamu
Semua itu takkan mampu membayar setetes susu yang kau berikan padaku

Wednesday, June 15, 2011

Jika Cinta Dia

Terlampau sering kau buat air mataku
Tak pernah kau tahu dalamnya rasa cintaku
Tak banyak inginku jangan kau ulangi
Menyakiti aku sesuka kelakuanmu
Ku bukan manusia yang tidak berfikir
Berulang kali kau lakukan itu padaku

Jika cinta dia jujurlah padaku
Tinggalkan aku disini tanpa senyumanmu
Jika cinta dia ku coba mengerti

Teramat sering kau membuat patah hatiku
Kau datang padanya tak pernah kutahu
Kau tinggalkan aku disaat ku butuh kan mu
Cinta tak begini selama ku tahu
Tetapi ku lemah karena cintaku padamu

Jika cinta dia jujurlah padaku
Tinggalkan aku disini tanpa senyumanmu
Jika cinta dia ku coba mengerti
Mungkin kau bukan cinta sejati dihidupku

by: Geisha

Kutemukan Penggantinya

sebuah kisah tertulis indah dimasa lalu
tak teraba oleh hati siapapun
hingga kau datang dengan segala kelemahanmu
cacat hidupmu menyempurnakanku

kesakitanku bertambah pahit
ketika harus ku akui
aku menahan rasa cinta untukmu
namun kau tetap ada

kau hadir dalam bayang yang tak pernah ku anggap
kau ada didalam bayang semu
kau merindu dan membuatku jatuh kepadamu
kau menyayangku dan buatku berkata
ku temukan penggantinya

kesakitanku bertambah pahit
ketika harus ku akui
kau hadir dalam bayang yang tak pernah ku anggap
kau ada didalam bayang semu
kau merindu dan membuatku jatuh kepadamu
kau menyayangku dan buat ku berkata

kau hadir dalam bayang yang tak pernah ku anggap
kau ada didalam bayang semu
kau merindu dan membuatku jatuh kepadamu
kau menyayangku dan buat ku berkata
ku temukan penggantinya, kutemukan penggantinya

Winda Viska