Apa itu G20?
G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19
negara utama dan Uni Eropa (EU). G20
merepresentasikan lebih dari 65% populasi bumi, 75% perdagangan global,
dan 80% PDB dunia. Anggota G20 terdiri dari Afrika Selatan, Amerika Serikat,
Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia,
Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok,
Turki, Uni Eropa serta pewakilan dari International Monetary Fund (IMF) dan
World Bank (WB).
Sejarah Pendirian G20
Pembentukan G20 tidak terlepas dari kekecewaan komunitas
internasional terhadap kegagalan G7 dalam mencari solusi terhadap permasalahan
perekonomian global yang dihadapi saat itu. Pandangan yang mengemuka saat itu
adalah pentingnya bagi negara-negara berpendapatan menengah serta yang memiliki
pengaruh ekonomi secara sistemik untuk diikutsertakan dalam perundingan demi mencari
solusi permasalahan ekonomi global.
Pada tahun 1999, atas saran dari para Menteri Keuangan G7
(Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Prancis), para
Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara G20 mulai mengadakan
pertemuan untuk membahas respon terhadap krisis keuangan global 1997-1999.
Sejak saat itu, pertemuan tingkat Menteri Keuangan dilaksanakan secara rutin
pada musim gugur.
Pada tanggal 14 - 15 November 2008, Presiden Amerika Serikat
George W. Bush mengundang para pemimpin negara-negara G20 dalam KTT G20 pertama
untuk melakukan koordinasi respon global terhadap dampak krisis keuangan yang
saat itu tengah terjadi di Amerika Serikat. Pada kesempatan itu, para pemimpin
negara G20 sepakat utnuk melakukan pertemuan lanjutan. Pada 1 – 2 April 2009,
London menjadi tuan rumah (Presidensi) KTT G20 kedua di bawah koordinasi
Perdana Menteri Inggris Gordon Brown. Selanjutnya, KTT G20 ketiga dilaksanakan
di Pittsburg pada 24 – 25 September 2009, dibawah koordinasi Presiden Amerika
Serikat Barrack Obama. KTT G20 keempat selanjutnya diadakan di Toronto pada 26
– 27 Juni 2010 di bawah koordinasi Perdana Menteri Kanada Stephen Harper. Di
tahun yang sama, Presiden Korea Lee Myung-Bak memimpin KTT Seoul pada 11 – 12
November 2010. Kemudian berturut-turut KTT selanjutnya diadakan di Cannes,
Prancis (2011); Los Cabos, Mexico (2012); St. Petersburg, Rusia (2013);
Brisbane, Australia (2014); Antalya, Turki (2015); Hangzhou, RRT (2016);
Hamburg, Jerman (2017); Buenos Aires, Argentina (2018); Osaka, Japan (2019).
Guna mempersiapkan KTT ini, setiap tahunnya para Menteri
Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 melakukan pertemuan beberapa kali
setahun.
G20 tidak memiliki Sekretariat permanen. Dalam proses dan
sistem kerjanya, G20 memiliki tuan rumah (Presidensi) yang ditetapkan secara
consensus pada KTT berdasarkan sistem rotasi kawasan dan berganti setiap
tahunnya. Guna memastikan seluruh pertemuan G20 lancar setiap tahun, Presidensi
tahun berjalan beserta presidensi sebelum dan presidensi selanjutnya (disebut
Troika) secara intensif melakukan koordinasi kesinambungan agenda prioritas
G20.
Jenis Pertemuan G20
1. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)/Summit
Merupakan klimaks dari proses pertemuan G20, yaitu rapat tingkat kepala negara/pemerintahan.
2. Ministerial & Deputies
Meetings/Pertemuan Tingkat Menteri dan Deputi
Diadakan
di masing-masing area fokus utama forum. Pada Finance Track, Ministerial
Meetings dihadiri oleh menteri keuangan dan gubernur bank sentral, yang disebut
Finance Ministers and Central Bank Governors Meetings (FMCBG). Sementara
pertemuan para deputi disebut Finance and Central Bank Deputies Meetings
(FCBD).
3. Kelompok Kerja/Working Groups
Beranggotakan
para ahli dari negara G20, Working Groups menangani isu-isu spesifik yang
terkait dengan agenda G20 yang lebih luas, yang kemudian dimasukkan ke dalam
segmen kementerian dan akhirnya KTT.
Peran Nyata G20
1. Penanganan Krisis Keuangan Global
2008
Salah
satu kesuksesan G20 terbesar adalah dukungannya dalam mengatasi krisis keuangan
global 2008. G20 telah turut mengubah wajah tata kelola keuangan global, dengan
menginisiasi paket stimulus fiskal dan moneter yang terkoordinasi, dalam skala
sangat besar. G20 juga mendorong peningkatan kapasitas pinjaman IMF, serta
berbagai development banks utama. G20 dianggap telah membantu dunia kembali ke
jalur pertumbuhan, serta mendorong beberapa reformasi penting di bidang
finansial.
2. Kebijakan Pajak
G20
telah memacu OECD untuk mendorong pertukaran informasi terkait pajak. Pada
2012, G20 menghasilkan cikal bakal Base Erosion and Profit Shifting (BEPS)
keluaran OECD, yang kemudian difinalisasikan pada 2015. Melalui BEPS, saat ini
139 negara dan jurisdiksi bekerja sama untuk mengakhiri penghindaran pajak.
3. Kontribusi dalam penanganan pandemi
Covid-19
Inisiatif
G20 dalam penanganan pandemi mencakup penangguhan pembayaran utang luar negeri
negara berpenghasilan rendah, Injeksi penanganan Covid-19 sebanyak >5
triliun USD (Riyadh Declaration), penurunan/penghapusan bea dan pajak impor,
pengurangan bea untuk vaksin, hand sanitizer, disinfektan, alat medis dan
obat-obatan.
4. Isu lainnya
Selain itu, G20 berperan dalam isu internasional lainnya, termasuk perdagangan, iklim, dan pembangunan. Pada 2016, diterapkan prinsip-prinsip kolektif terkait investasi internasional. G20 juga mendukung gerakan politis yang kemudian berujung pada Paris Agreement on Climate Change di 2015, dan The 2030 Agenda for Sustainable Development.
Presidensi G20
Indonesia Memegang Presidensi G20
Berbeda dari kebanyakan forum multilateral, G20 tidak
memiliki sekretariat tetap. Fungsi presidensi dipegang oleh salah satu negara
anggota, yang berganti setiap tahun. Sebagaimana ditetapkan pada Riyadh Summit
2020, Indonesia akan memegang presidensi G20 pada 2022, dengan serah terima
yang dilakukan pada akhir KTT Roma (30-31 Oktober 2021).
Tema Presidensi G20 Indonesia 2022
"Recover Together, Recover Stronger"
Melalui tema tersebut, Indonesia ingin mengajak seluruh dunia
untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih
kuat dan berkelanjutan.
Logo Presidensi G20 Indonesia 2022

Pilar Presidensi G20 Indonesia 2022
1. Memperkuat lingkungan kemitraan.
2. Mendorong produktivitas.
3. Meningkatkan ketahanan dan
stabilitas.
4. Memastikan pertumbuhan berkelanjutan
dan inklusif.
5. Kepemimpinan kolektif global yang
lebih kuat.
Agenda prioritas jalur keuangan dalam Presidensi
G20 Indonesia 2022
1.
Exit
Strategy to Support Recovery
Membahas
bagaimana G20 melindungi negara-negara yang masih menuju pemulihan ekonomi
(terutama negara berkembang) dari efek limpahan (spillover) exit policy yang
diterapkan oleh negara yang lebih dahulu pulih ekonominya (umumnya negara
maju).
2.
Adressing
Scarring Effect to Secure Future Growth
Mengatasi
dampak berkepanjangan (scarring effect) krisis dengan meningkatkan
produktivitas dan pertumbuhan jangka panjang, memperhatikan ketenagakerjan,
rumah tangga, sektor korporasi, dan sektor keuangan.
3.
Payment
System in Digital Era
Standar
pembayaran lintas batas negara (CBP),
serta prinsip-prinsip pengembangan CBDC (General Principles for Developing
CBDC).
4.
Sustainable
Finance
Membahas
risiko iklim dan risiko transisi menuju ekonomi rendah karbon, dan sustainable
finance (keuangan berkelanjutan) dari sudut pandang makroekonomi dan stabilitas
keuangan
5.
Financial
Inclusion: Digital Financial Inclusion & SME Finance
Memanfaatkan
open banking untuk mendorong produktivitas dan mendukung ekonomi dan keuangan
inklusif bagi underserved community
yaitu wanita, pemuda, dan UMKM, termasuk aspek lintas batas.
6.
International
Taxation
Membahas
perpajakan internasional, utamanya terkait dengan implementasi Framework
bersama OECD/G20 mengenai strategi perencanaan pajak yang disebut Base Erotion
and Profit Shifting (BEPS),
Manfaat bagi Indonesia
1. Presidensi G20 di tengah pandemi
membuktikan persepsi yang baik atas resiliensi ekonomi Indonesia terhadap krisis.
2. Merupakan bentuk pengakuan atas status Indonesia sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia, yang juga dapat merepresentasikan negara berkembang lainnya.
3. Momentum presidensi ini hanya terjadi
satu kali setiap generasi (+ 20 tahun sekali) dan harus dimanfaatkan sebaik
mungkin untuk memberi nilai tambah bagi pemulihan Indonesia, baik dari sisi
aktivitas ekonomi maupun kepercayaan masyarakat domestik dan internasional.
4. Indonesia dapat mengorkestrasi agenda
pembahasan pada G20 agar mendukung dan berdampak positif dalam pemulihan
aktivitas perekonomian Indonesia.
5. Menjadi kesempatan menunjukkan
kepemimpinan Indonesia di kancah internasional, khususnya dalam pemulihan
ekonomi global. Dari perspektif regional, Presidensi ini menegaskan kepemimpinan
Indonesia dalam bidang diplomasi internasional dan ekonomi di kawasan,
mengingat Indonesia merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang menjadi anggota
G20.
6. Membuat Indonesia menjadi salah satu fokus perhatian dunia, khususnya bagi para pelaku ekonomi dan keuangan. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan (showcasing) berbagai kemajuan yang telah dicapai Indonesia kepada dunia, dan menjadi titik awal pemulihan keyakinan pelaku ekonomi pascapandemi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri
7. Pertemuan-pertemuan G20 di Indonesia juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pariwisata dan produk unggulan Indonesia kepada dunia internasional, sehingga diharapkan dapat turut menggerakkan ekonomi Indonesia.
3 comments:
Liburan lagi dong ke bali pake duit negara?
hahahaha, sekate kate anda.. ga jadi nih ke bali di coret nama gw :(
Wkakakkakakkaa
Post a Comment